Para Pelaku Menggunakan Uang Hasil Penggelapan Untuk Berjudi Di Mataram Dan Membeli Sabu

Pelaku menggunakan uang hasil penggelapan dari rumah judi berinisial HE Douglas (33) di Kelurahan Sandopaya Kota Mataram untuk berjudi . Selain berjudi, pelaku kejahatan seksual telah menggunakan uang puluhan juta rupiah untuk membeli sabu di Kabupaten Mataram, NTB.

“70 juta dari 130 juta rupiah untuk kebutuhan ekonomi. Sisanya untuk bersenang-senang. Saya berjudi dengan Nyabu.” Mapolres Mataram.

Selain itu, sisa uang Rp 130 juta digunakan untuk membeli miras dengan pelaku kejahatan lainnya. Pelaku tampak mentraktir rekannya untuk mengenang kebersamaan mereka di Kecamatan Gelong Kabupaten Lombok Barat.

“Saya sudah punya istri,” kata Maali, “jadi saya tidak main-main dengan perempuan.”

Pelaku mengaku penggelapan uang pemilik toko mainan bermula saat barang dikirim dari gudang toko di Desa Mandalika ke Selong Lombok Timur.

“Sorenya saya berangkat dinas di Praia, Lombok Tengah, dilanjutkan ke Selong, Lombok Timur,” kata menteri yang terhormat.

Setelah bongkar dan bayar di kasir, pelaku membawa hasil mainan tersebut ke rumahnya di Desa Sukarara, Kecamatan Jungat, Lombok Tengah.

“Kemudian saya pulang. Saya pergi ke Gironji selama dua minggu dari sana. Saya membeli sabu-sabu dan berjudi dengan teman-teman. Saya menandatangani kontrak tiga bulan di Mataram,” ujarnya.

Setelah itu saya pindah ke Bali akhir Agustus 2021 dan bekerja sebagai travel driver selama 1 tahun 3 bulan. Setelah melarikan diri ke beberapa lokasi dan ditangkap di kota Denpasar Bali, pelaku akhirnya mengaku telah bertobat dan tidak ingin mengulangi perbuatannya.

Yang Mulia berkata, “Saya ingin berefleksi. Saya ingin menjaga istri saya. Setelah dibebaskan, saya ingin berjalan di jalan yang benar.”

Sebelumnya, Kapolsek Sandopaya Kumpul Mo Nasrullah mengatakan pelaku mencuri uang milik toko mainan setelah menjatuhkan barang senilai Rp 130 juta di Lombok Timur. Pelaku nampaknya baru sekitar sebulan bekerja di toko tersebut.

See also  Mpo Slot Online

Nasrallah mengungkapkan pada Selasa, 13 September 2022, “Uang yang ditarik dari penjualan merchandise sebesar Rp 130 juta, Rp 70 juta untuk biaya hidup dan Rp 60 juta untuk hiburan.”

Penggelapan para pelaku dimulai pada Mei 2021. Korban ternyata melarikan diri ke Lombok Barat, Kota Mataram dan Kecamatan Gerong Lombok Tengah, dan akhirnya ditangkap di Kota Denpasar, Provinsi Bali.

Kini, tersangka telah menjadi tersangka atas kasus penggelapan teh mentah di desa Sukarara di kawasan Jungat negara bagian Lombok tengah. Pelaku divonis lima tahun penjara berdasarkan Pasal 374 KUHP terkait penggelapan jabatan publik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *